Selasa, 17 Desember 2013

Aku, Kau dan Dia : Masa Sulit

Terbangun aku dari mimpi buruk yang selama ini terus menghantuiku, mimpi yang selama ini aku takutkan. Oh ya namaku Iman Arief Saputra, teman-teman biasa memanggilku Iman. Ku lihat jam dengan samar-samar, sudah jam 06 pagi. Entah kenapa hari ini aku tidak bersemengat sekali. Tanganku bergerak ke meja samping tempat tidurku. Bukanlah kaca mata, undangan pernikahanyang kudapat. Terdiam saat ku melihat undangan itu. Mungkin hari ini hari yang sangat suram yang pernah ku alami. Tepat pukul 09.30 pagi nanti merupakan pernikahan orang yang paling aku sayangi di dunia ini. Namanya Sarah. Dia yang selama ini selalu menyemangati kala aku sedang malas kuliah, dia yang terus menasihati jika aku melakukan kesalahan, dan dia yang selalu membuat hari-hariku penuh warna kini telah meninggalkanku dan memilih menikah dengan orang pilihan orang tuanya. Tidak ada alasan baginya untuk  menolak keinginan ayahnya. Ayahnya sedang di rawat di rumah sakit karna mengidap sakit parah dan umurnya tidak dapat bertahan lebih lama lagi.
Sudah jam 8 pagi, aku bergegas ke halaman depan rumah, dimana Eko sudah menungguku. Eko merupakan satu-satunya sahabatku. Sahabat yang terus men-support aku, yang terus mencoba menyemangati untuk bangkit dari keterpurukan. Dia sangat dekat dengan keluargaku dan aku sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluargaku. Diperjalanan pun, aku lebih banyak tertidur untuk sekedar menenangkan pikiran. Masih terbayang di mimpi masa-masa indah bersama Sarah. Wajar saja, 5 tahun ku habiskan bersamanya. Susah senang telah kita lewati. Tak pernah sedetik pun ada keraguan didalam benakku, begitupun yang dengan dia. Mungkin ini cobaan terberat dari Allah SWT.  yang harus ku lalui.

  1 jam lebih perjalanan dari rumahku di Jakarta dengan pesta pernikahan Sarah yang diadakan di rumah orang tuanya di Bandung. Sesampainya disana, Eko pun langsung membangunkanku. Masih ada keraguan didalam hatiku untuk melangkahkan kakiku  untuk masuk kesana. Tampaknya Eko memperhatikan diriku. Dengan sambil tersenyum, Eko merangkul pundakku dan menuntunku untuk masuk kedalam. Senyumnya tampak mengisrayatkan diriku untuk terus tegar dan kuat jika sudah didalam. Mata ini tak lagi mampu menampung semua air mata kesedihan. Sakit rasanya melihat orang yang paling di sayangin duduk bersanding di pelaminan dengan orang lain. Makin terasa berat kaki ini melangkah, Eko tak henti-hentinya memegang pundakku dan menyemangatiku untuk selalu tegar menghadapi semuanya. Dia memang sahabat terbaikku. Dengan keteguhan hati aku berjalan menghampiri Sarah untuk sekedar mengucapkan selamat kepadanya. Mungkin hari ini merupakan hari terakhir aku melihatnya. Selamat tinggal Sarah, semoga kamu berbahagia dengannya.

0 komentar:

Posting Komentar

newer post older post Home