Kamis, 07 November 2013

Analisa " Sepak Terjang Bahasa Indonesia Di Luar Negeri"

Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu bagi kita warga negara Indonesia. Pentingnya kita mengetahui tentang seluk -  beluk bahasa kita sendiri dan juga tata bahasa yang digunakan merupakan satu hal penting agar kita bisa menjadi warga negara yang baik dan bermartabat.

Umumnya, pengajaran bahasa Indonesia di dalam negeri terkesan membosankan. Sebagian besar pelajar beranggapan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa mereka sehari-hari sehingga mereka cenderung meremehkannya dan merasa tidak perlu untuk mempelajarinya lagi di sekolah. Dampaknya adalah nilai dari hasil ujian nasional bahasa Indonesia yang diikuti oleh seluruh pelajar di Indonesia yang diujikan tidak lebih baik dari bahasa Inggris. Bahkan bahasa Indonesia itu sendiri merupakan bahasa tersulit ketiga di Asia.

Berbeda dengan di Indonesia, pengajaran bahasa Indonesia di luar negeri justru menjadi hal yang menarik dan disambut dengan baik. Setidaknya ada 52 negara asing yang telah membuka program bahasa Indonesia (Indonesian Language Studies). Bisa diambil contoh di kota Ho Chi Minh, ibukota Vietnam yang secara resmi menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kedua yang diresmikan pada bulan Desember 2007. Kebanyakan pengajaran bahasa Indonesia dilakukan di berbagai lembaga. Lembaga-lembaga tersebut umumnya berupa tempat kursus, universitas, sekolah, dan sekolah Indonesia di luar negeri.
Selain di Vietnam, masih banyak lagi Negara – Negara di dunia yang cukup dikenal. Contohnya di Negara Korea Selatan, Maroko, Mesir, Jepang, Australia dan masih banyak lagi Negara yang lainnya di dunia. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang Sepak Terjang Bahasa Indonesia Di Negeri Kangguru, Australia.
Menurut teman saya yang berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta ini menyebutkan, bahwa di Negara Australia saat ini Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa populer kedua di Negara Kangguru tersebut. Bahkan di tingkat sekolah dasar menjadikan bahasa Indonesia ini menjadi mata pelajaran wajib kedua.
Oleh karena itu, kita tidak perlu heran jika mendapati seorang anak SD di Australia yang dapat berbicara bahasa Indonesia dengan fasih. Selain itu, ada beberapa universitas di sana yang membuka jurusan bahasa atau sastra Indonesia.
Namun, perkembangan bahasa Indonesia di negara ini sempat tersendat ketika pemerintah negara setempat memberikan travel warning akibat teror bom yang terjadi di Bali. Hal ini menurunkan minat para siswa di sana untuk belajar bahasa Indonesia karena larangan berkunjung membuat mereka tidak dapat langsung praktek lapangan di Indonesia. Salah satu kendala yang lainnya adalah masih minimnya tenaga pengajar bahasa Indonesia. Sampai saat ini, Negara yang dikenal dengan Boomerangnya tersebut  masih membutuhkan lebih dari sekitar 400 orang tenaga pengajar.  Kendala yang selanjutnya adalah masih kurangnya tenaga pengajar yang benar berjurusan bahasa Indonesia, karena kebanyakan tenaga pengajar yang mengajar merupakan lulusan dari jurusan bahasa asing.
Cukup sekian informasi atau kajian yang bisa saya sampaikan. Semoga dengan ini bisa menambah wawasan dan kecintaan kita terhadap bahasa yang mempersatukan Bangsa Indonesia, Bahasa Indonesia. Tetap dukung terus untuk menjadi Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Internasional.
Sumber :
3.    Fahrudin Mualim, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Jakarta.


0 komentar:

Posting Komentar

newer post older post Home